Teknologi dalam Genggaman, Tauhid dalam Pegangan, Peran Santri di Era Digital

Di tengah derasnya arus kemajuan teknologi, santri tidak lagi hanya dituntut memahami ilmu-ilmu tradisional pesantren. Mereka kini berada di persimpangan baru: antara menjaga kemurnian tauhid dan menghadapi realitas dunia digital yang tak terbendung. Untuk itulah peran santri menjadi semakin strategis menjadi generasi yang mampu menggenggam teknologi dengan cerdas, sekaligus memegang teguh tauhid sebagai kompas moral dan spiritual.
Fondasi Qur’ani; Ilmu, Akal, dan Tanggung Jawab
Perintah pertama dalam Islam adalah “Iqra” bacalah (QS. Al-‘Alaq: 1–5). Ayat ini bukan sekadar instruksi membaca teks, tetapi ajakan untuk menekuni pengetahuan, menjelajah, dan mengembangkan kapasitas akal. Dalam ayat tersebut, Allah menegaskan bahwa Dia mengajarkan manusia dengan “pena” (al-qalam), sebuah simbol instrumen peradaban.
Hari ini, pena itu bermetamorfosis menjadi teknologi komputer, internet, media digital, dan kecerdasan buatan. Maka memanfaatkan teknologi sebagai sarana belajar, meneliti, dan berdakwah merupakan perpanjangan dari spirit Qur’ani itu sendiri.
Rasulullah SAW juga menegaskan pentingnya ilmu melalui hadits:
“Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap Muslim.” (HR. Ibnu Majah)
Dan dalam riwayat Muslim:
“Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.”
Hadits ini memberi kerangka bahwa jalan ilmu dapat ditempuh melalui berbagai sarana, termasuk sarana digital. Namun, Islam mengingatkan bahwa adab adalah fondasi ilmu. Kemajuan teknologi tidak boleh membuat santri kehilangan sikap tawadu’, kedisiplinan, dan kebeningan hati dalam belajar.
Santri Sebagai Pelaku Dakwah Digital
Perubahan besar terjadi pada metode dakwah hari ini. Tidak hanya di mimbar dan majelis taklim, tetapi juga melalui:
Media Sosial,
Video Edukasi,
Tulisan Digital,
Podcast Ilmu,
Desain Grafis Islami,
Konten Refleksi Spiritual.
Santri dapat menjadi aktor penting dalam dakwah digital yang santun, mencerahkan, dan berkemajuan. Dengan landasan tauhid, mereka mampu menghadirkan wajah Islam yang inklusif, penuh hikmah, dan adaptif terhadap zaman.
Di sinilah nilai pesantren memainkan peran: membentuk karakter, adab, dan kedalaman ruhani agar santri tidak hanya membuat konten, tetapi menghadirkan pesan beradab yang bermanfaat bagi umat.
Literasi Digital: Keterampilan Wajib Santri Masa Kini
Perkembangan dunia menuju otomasi, artificial intelligence, dan mobilitas digital membuat literasi digital menjadi kebutuhan mendasar. Tetapi literasi digital bagi seorang santri bukan sekadar mahir teknologi melainkan memahami:
Etika Penggunaan Informasi,
Kemampuan Memilah Kebenaran,
Tanggung Jawab Digital,
Keamanan Data,
Serta Pemanfaatan Teknologi Sebagai Sarana Ibadah Dan Pemberdayaan.
Dengan tauhid sebagai pegangan, santri menggunakan teknologi untuk memperluas manfaat, bukan mengikuti arus negatif dunia maya.
Arah Peradaban: Sejalan Dengan Semangat Islam Berkemajuan
Muhammadiyah sebagai gerakan Islam modernis telah menunjukkan bagaimana teknologi harus direspons secara positif. Beberapa tren penting menjadi acuan:
Penguatan literasi digital pendidikan Muhammadiyah, di mana guru tetap menjadi penentu karakter pendidikan meski teknologi berkembang cepat.
Pengembangan dakwah digital, melalui program seperti Akademi Da’i Digital, yang melatih kader dakwah untuk tampil di ruang virtual secara santun, argumentatif, dan mencerahkan.
Inovasi teknologi, seperti peluncuran perangkat ITMU yang merupakan upaya kemandirian teknologi umat.
Pemikiran “Islam Berkemajuan”, yang memandang teknologi sebagai alat memperkuat peradaban, bukan ancaman.
Arahan ini sejalan dengan Misi Pesantren At-Tajdid Muhammadiyah Tasikmalaya: mencetak generasi yang kuat secara spiritual, cerdas secara digital, dan berorientasi dakwah yang berkemajuan.
Peran Pesantren At-Tajdid: Melahirkan Santri Berkarakter Digital-Ilmiah
Pesantren memiliki modal besar: kedisiplinan, kesinambungan ibadah, nilai adab, serta suasana ilmiah yang tidak terputus. Semua ini membuat santri At-Tajdid mampu merespons dunia digital dengan sikap matang.
Pembinaan yang mengintegrasikan:
Kajian Tafsir Dan Hadits,
Pemikiran Islam Berkemajuan,
Literasi Digital,
Akhlak Dan Kepemimpinan,
Serta Pembiasaan Ibadah,
akan melahirkan generasi yang bukan hanya cerdas digital, tetapi juga bening hatinya dan kuat nilai tauhidnya.
Santri, Teknologi, dan Arah Baru Peradaban
Era digital bukanlah ancaman bagi santri—justru peluang besar untuk berperan sebagai penjaga peradaban. Selama teknologi berada di genggaman, dan tauhid berada dalam pegangan, santri akan mampu:
Memanfaatkan Teknologi Dengan Etika,
Menebarkan Dakwah Yang Cerdas Dan Beradab,
Memperluas Ilmu Pengetahuan,
Serta Menghadirkan Pencerahan Bagi Umat.
Dari pesantren, lahir generasi yang akan menjadi jembatan antara kecanggihan teknologi dan kedalaman spiritual. Mereka adalah harapan baru peradaban: santri yang berilmu, berakhlak, dan berkemajuan.
Redaksi
Akbar Syawaludin, S.Sos.
Bagikan :


