logo

Mengenang Pengabdian dan Keteladanan Dr. Yusef Rafiqi, S.Ag., M.M.

ARTIKEL
admin
20 April 2026
Mengenang Pengabdian dan Keteladanan Dr. Yusef Rafiqi, S.Ag., M.M.

Innalillahi wa inna ilaihi raji’un.

Dengan penuh duka yang mendalam, keluarga besar pesantren menyampaikan belasungkawa atas wafatnya Dr. Yusef Rafiqi, S.Ag., M.M., Mudir Pesantren yang selama ini dikenal sebagai sosok pemimpin, pendidik, dan pembimbing umat yang penuh ketulusan. Beliau berpulang ke rahmatullah pada Sabtu pagi pukul 04.00 WIB, meninggalkan kesedihan yang begitu dalam bagi seluruh keluarga besar pesantren, para santri, alumni, dewan guru, dan masyarakat yang mengenal beliau.

Kepergian almarhum bukan hanya menghadirkan kehilangan seorang pemimpin, melainkan juga kehilangan seorang guru yang telah mengabdikan hidupnya untuk pendidikan, pembinaan akhlak, dan perjuangan dakwah. Dalam diri beliau, pesantren menemukan figur yang tidak hanya memimpin dengan kebijaksanaan, tetapi juga mendidik dengan kasih sayang, menuntun dengan keikhlasan, dan memberi teladan melalui amal nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Selama masa pengabdiannya, Dr. Yusef Rafiqi, S.Ag., M.M. telah memberikan sumbangsih yang sangat besar bagi perkembangan pesantren At Tajdid. Di bawah kepemimpinan beliau, pesantren tidak hanya tumbuh sebagai lembaga pendidikan, tetapi juga menjadi rumah pembinaan akhlak, tempat lahirnya generasi yang mencintai ilmu, menjunjung adab, dan berpegang teguh pada nilai-nilai keislaman. Setiap langkah, nasihat, dan pengorbanan beliau menjadi bagian penting dari perjalanan panjang pesantren ini.

Yang membuat kepergian beliau terasa semakin menggetarkan adalah kenyataan bahwa almarhum wafat setelah menunaikan shalat tahajud. Dalam suasana hening menjelang subuh, setelah bersujud dan bermunajat kepada Allah SWT, beliau dipanggil kembali oleh Sang Pemilik kehidupan. Sebuah peristiwa yang menghadirkan haru yang begitu dalam, sekaligus menumbuhkan doa dan harapan agar Allah menganugerahkan kepada beliau akhir kehidupan yang husnul khatimah.

Ada satu karya almarhum yang kini terasa demikian dekat dengan peristiwa wafatnya beliau, yaitu lagu ciptaannya yang berjudul “Sajadah Bisu.” Lagu tersebut seakan menjadi cermin dari detik-detik terakhir perjalanan hidup beliau. Judul itu kini tidak lagi hanya dikenang sebagai sebuah karya, tetapi juga sebagai gambaran sunyi yang menyelimuti saat-saat beliau berpulang setelah tahajud, setelah sujud panjang, setelah doa-doa yang mungkin hanya Allah yang mengetahuinya.

Di situlah letak kesedihan yang begitu mendalam. Sosok yang sepanjang hidupnya mengajarkan kedekatan kepada Allah, justru menutup usia dalam keadaan yang sangat dekat dengan-Nya. Seakan kehidupan beliau sendiri menjadi penjelasan paling nyata atas makna dari karya yang pernah beliau lahirkan. “Sajadah Bisu” kini bukan sekadar lagu, melainkan kenangan, pesan, dan saksi bisu atas ketundukan seorang hamba yang menghadap Tuhannya dalam kemuliaan ibadah.

Kepergian beliau meninggalkan ruang kosong yang tidak mudah terisi. Suara nasihatnya, keteduhan sikapnya, serta kebersahajaan hidupnya akan selalu dirindukan. Bagi para santri, beliau adalah pendidik yang menanamkan nilai. Bagi para guru, beliau adalah pemimpin yang mengayomi. Bagi masyarakat, beliau adalah tokoh yang menghadirkan keteladanan. Dan bagi pesantren ini, beliau adalah bagian dari ruh perjuangan yang tidak akan pernah terpisahkan dari sejarah lembaga.

Namun demikian, meskipun jasad beliau telah tiada, pengabdian dan warisan keteladanan yang telah beliau tinggalkan akan tetap hidup. Doa-doa para santri, ilmu yang pernah beliau ajarkan, karya-karya yang beliau tinggalkan, serta nilai-nilai perjuangan yang beliau tanamkan akan terus mengalir menjadi amal jariyah yang insya Allah tidak akan terputus.

Keluarga besar pesantren berdoa semoga Allah SWT mengampuni segala khilaf almarhum, menerima seluruh amal ibadah dan pengabdiannya, melapangkan alam kuburnya, menerangi peristirahatan beliau dengan rahmat-Nya, serta menempatkan beliau di tempat terbaik di sisi Allah SWT. Semoga keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan, kesabaran, dan kekuatan dalam menghadapi musibah ini.

Selamat jalan, guru kami, pemimpin kami, teladan kami. Namamu akan selalu hidup dalam doa, pengabdian, dan kenangan yang tak akan pudar.

Al-Fatihah.

Bagikan :