logo

Disiplin Partisipatif Pesantren At-Tajdid Muhammadiyah Tasikmalaya

ARTIKEL
admin
5 Februari 2026
Disiplin Partisipatif Pesantren At-Tajdid Muhammadiyah Tasikmalaya

Menumbuhkan Santri Beradab, Berilmu, dan Beramal

Disiplin merupakan fondasi penting dalam pendidikan pesantren. Di Pesantren At-Tajdid Muhammadiyah Tasikmalaya, disiplin tidak dimaknai sebagai sekadar kepatuhan terhadap aturan, melainkan sebagai sikap dasar pendidikan yang menumbuhkan kesadaran, adab, dan tanggung jawab santri.

Bagi At-Tajdid, disiplin adalah sarana pendidikan manusia seutuhnya—bukan alat penertiban semata, melainkan jalan pembentukan karakter.

Fondasi Nilai At-Tajdid: Beradab, Berilmu, Beramal

Seluruh proses pendidikan di Pesantren At-Tajdid bertumpu pada nilai Beradab, Berilmu, dan Beramal. Disiplin berfungsi sebagai pengikat ketiga nilai tersebut agar tidak berhenti sebagai konsep, tetapi hidup dalam keseharian santri.

Tanpa adab, disiplin kehilangan ruh. Tanpa ilmu, disiplin menjadi kaku. Tanpa amal, disiplin berhenti sebagai formalitas. Karena itu, At-Tajdid menempatkan disiplin sebagai proses pendidikan nilai yang menyeluruh.

Dari Kepatuhan Menuju Kesadaran Nilai

Pesantren At-Tajdid meyakini bahwa kepatuhan yang lahir dari tekanan tidak akan bertahan lama. Disiplin yang kuat justru tumbuh dari pemahaman dan kesadaran nilai.

Melalui pendekatan disiplin partisipatif, santri dibimbing untuk memahami tujuan aturan dan nilai yang dijaga bersama. Ketaatan tidak dibangun melalui rasa takut, tetapi melalui kesadaran akan tanggung jawab pribadi dan kolektif.

Disiplin Partisipatif sebagai Ciri Khas At-Tajdid

Disiplin partisipatif merupakan identitas pendidikan Pesantren At-Tajdid Muhammadiyah Tasikmalaya. Pendekatan ini menempatkan santri sebagai subjek pendidikan moral, bukan sekadar objek pengaturan.

Santri dilibatkan secara aktif dalam memahami aturan, merefleksikan perilaku, dan bertanggung jawab atas nilai yang dijalani. Dengan cara ini, disiplin membentuk santri yang berpikir, memahami, dan bertindak secara sadar.

Disiplin sebagai Proses Pendidikan dan Pendewasaan

Di Pesantren At-Tajdid, pelanggaran tidak dipahami semata sebagai kesalahan yang harus dihukum. Ia dipandang sebagai bagian dari proses belajar dan pendewasaan diri.

Disiplin diarahkan untuk menjaga martabat santri, menumbuhkan tanggung jawab, dan memperkuat adab. Pendekatan ini sejalan dengan konsep ta’dib dalam pendidikan Islam yang menekankan pembentukan manusia beradab secara utuh.

Budaya Dialog, Keteladanan, dan Tanggung Jawab Kolektif

Disiplin partisipatif tumbuh dalam budaya dialog dan keteladanan. Pengasuh dan pendidik hadir sebagai pembimbing, sementara santri senior berperan sebagai teladan dan pendamping.

Budaya saling menasihati, musyawarah, dan kepedulian sosial menjadi bagian dari kehidupan pesantren. Dengan demikian, disiplin tidak hanya dijaga oleh sistem, tetapi hidup dalam kesadaran kolektif komunitas.

Disiplin, Ta’dib, dan Islam Berkemajuan

Sebagai pesantren Muhammadiyah, At-Tajdid menempatkan disiplin dalam kerangka Islam Berkemajuan Islam yang membangun akhlak, ilmu, dan tanggung jawab sosial. Disiplin partisipatif menjadi sarana membentuk santri yang mandiri, berakhlak mulia, dan siap berkontribusi bagi masyarakat, bukan hanya patuh di lingkungan pesantren. 

Disiplin partisipatif bukan sekadar metode, melainkan jati diri pendidikan Pesantren At-Tajdid Muhammadiyah Tasikmalaya. Beradab dalam sikap, Berilmu dalam pemahaman & Beramal dalam tindakan Inilah karakter santri At-Tajdid.

Referensi:

  • Al-Attas, S. M. N. The Concept of Education in Islam.

  • Dewey, J. Experience and Education.

  • Kohlberg, L. The Psychology of Moral Development.

  • Nucci, L. Education in the Moral Domain.

  • Bandura, A. Self-Efficacy: The Exercise of Control.

Bagikan :