logo

Maraknya Isu Child Grooming di Tasikmalaya: Pesantren Tekankan Perlindungan Anak dan Literasi Digital

ARTIKEL
admin
28 Januari 2026
Maraknya Isu Child Grooming di Tasikmalaya: Pesantren Tekankan Perlindungan Anak dan Literasi Digital

Tasikmalaya – Isu dugaan child grooming yang melibatkan pelajar tingkat SMA di Tasikmalaya dalam beberapa hari terakhir menjadi perhatian serius masyarakat. Perbincangan yang berkembang di ruang publik, khususnya media sosial, menegaskan bahwa anak dan remaja merupakan kelompok rentan yang membutuhkan perlindungan dan pendampingan lebih kuat di tengah derasnya arus informasi dan budaya digital.

Child grooming merupakan pola pendekatan bertahap kepada anak atau remaja dengan tujuan membangun kedekatan dan kepercayaan, hingga akhirnya menempatkan korban dalam situasi yang tidak aman secara psikologis, sosial, maupun moral. Modus ini kerap dikemas melalui konten hiburan, tantangan, atau interaksi yang terlihat ringan, namun berpotensi menimbulkan dampak serius bagi perkembangan anak.

Tantangan Pelajar di Era Digital

Pelajar hari ini tidak hanya dihadapkan pada tuntutan akademik, tetapi juga pada paparan konten digital yang masif dan minim batasan. Media sosial dapat menjadi sarana ekspresi dan pembelajaran, namun juga membuka ruang normalisasi perilaku yang melanggar etika serta mengaburkan batas aman interaksi, terutama bagi anak di bawah umur.

Kurangnya literasi digital, pengawasan lingkungan, dan komunikasi terbuka sering kali membuat pelajar kesulitan mengenali situasi yang berisiko bagi dirinya.

Menyekolahkan Anak ke Pesantren Sebagai Ikhtiar Perlindungan di Tengah Dinamika Zaman

Di tengah kompleksitas persoalan pelajar hari ini, menyekolahkan anak ke pesantren menjadi salah satu keputusan terbaik dan paling relevan bagi orang tua. Pesantren tidak hanya berfungsi sebagai lembaga pendidikan formal, tetapi juga sebagai ruang aman pembinaan karakter dan akhlak.

Pesantren At-Tajdid Muhammadiyah Tasikmalaya menegaskan bahwa sistem pendidikan pesantren memberikan:

  1. Lingkungan yang terjaga dan terkontrol, dengan pendampingan ustadz dan pengasuh secara berkelanjutan.

  2. Penanaman nilai akhlak dan adab, sebagai fondasi utama dalam bersikap dan berinteraksi.

  3. Pembiasaan kedisiplinan dan tanggung jawab, yang membentuk karakter santri sejak dini.

  4. Pendampingan dalam literasi digital dan etika bermedia, agar santri mampu menghadapi teknologi secara bijak dan beradab.

Dalam ekosistem pesantren, interaksi sosial dibangun atas dasar nilai, batasan, dan pengawasan, sehingga potensi penyimpangan dapat diminimalisir sejak awal.

Pendidikan yang Melindungi dan Membentuk Karakter

Isu yang berkembang di Tasikmalaya ini menjadi pengingat bahwa pendidikan sejati bukan hanya soal prestasi akademik, tetapi juga perlindungan moral dan keselamatan anak. Pesantren hadir sebagai ikhtiar nyata untuk memastikan proses tumbuh kembang generasi berlangsung dalam lingkungan yang sehat, aman, dan bernilai.

Pesantren At-Tajdid Muhammadiyah Tasikmalaya berkomitmen menjadi mitra orang tua dalam mendidik generasi yang beriman, berakhlak, kritis, serta siap menghadapi tantangan zaman tanpa kehilangan jati diri.

Penutup

Maraknya isu dugaan child grooming di kalangan pelajar hendaknya menjadi refleksi bersama bagi seluruh elemen masyarakat. Sinergi antara keluarga, lembaga pendidikan, dan lingkungan sosial menjadi kunci utama dalam menjaga anak dari berbagai bentuk eksploitasi dan pengaruh negatif.

Pesantren menjadi salah satu ikhtiar strategis dalam melindungi anak di tengah dinamika zaman bukan sekadar tempat belajar, tetapi ruang aman pembentukan masa depan.

Bagikan :